ATUR NAFAS DI LOKASI BENCANA

ATUR NAPAS DI LOKASI BENCANA

Langkah pertama yang saya lakukan jika mendengar kabar ada bencana alam disuatu tempat adalah melalukan assesment lapangan dengan cara segera berangkat.

Tidak semua bencana alam saya datangi tergantung skala dan tingkat kerusakannya.
Apa dasar saya utk segera berangkat atau tolok ukur bahwa bencaba ini besar sehingga layak saya kunjungi?.

Belajar dari puluhan bencana alam yg pernah saya terlibat adalah “masalah komunikasi” artinya bila terjadi bencana alam di suatu tempat lalu sistem komunikasi di daerah bencana itu mengalami gangguan maka itulah alasan pertama saya utk segera datang mengecek bagaimana kondisi sesungguhnya. Pengalaman terdekat bencana alam yg mengalami gangguan komunikasi adalah Palu, Masamba dan juga Sulbar.

Jika suatu daerah famili kita atau kenalan sulit dihubungi maka jangan menunggu segeralah cari jalan bagaimana caranya sampai di daerah bencana tsb.

Biasanya jika mendengar ada bencana saya langsung berangkat atas inisiatif pribadi tanpa menunggu koordinasi dgn instansi atau komunitas dimana saya bernaung. Saya berangkat atas nama pribadi tanpa membawa bendera komunitas, instansi, ormas atau apapun ini dengan alasan agar saya cepat bergerak tanpa banyak petimbangan dari atas. Diperjalanan baru saya melapor ke senior, berkoordinasi atau mengajak pegiat bencana lainnya.

Jika sampai di daerah bencana maka saya berusaha keliling utk melihat sebanyak mungkin daerah terdampak sambil mendata korban, kerusakan sarana umum, daerah pemukiman penduduk. Setelah itu saya cari rumah tumpangan baru melapor ke otoritas setempat. Biasanya saya langsung cari rumah sakit dan langsung menginap di situ. Kenapa ke rumah sakit? pertama karena saya dokter sehingga bisa langsung bekerja, kedua jika skala bencana besar maka pasti banyak korban yg ke rumah sakit dan ini bisa menjadi salah satu pertimbangan utk menggerakkan bantuan utk segera datang menolong.

Masalah besar jika signal di daerah bencana hilang timbul maka saya menganjurkan agar radio komunikasi perlu diaktifkan kembali.
Biasanya saya langsung bergabung dgn manajemen RS setempat utk rapat kordinasi sambil bekerja di gawat darurat atau kamar operasi.

Pada hari kedua dan seterusnya saya akan berkoordinasi dengan teman2 Para Relawan Indonesia PRI utk segera mengirim tim melakukan assesment lanjutan sambil membawa logistik darurat seperti keperluan makanan siap saji.
Berdasarkan assesment tim inilah data diolah dan dianalisis oleh pengurus pusat PRI untuk menentukan jumlah tim, spesifikasi tim, kebutuhan logistik baik jumlah maupun jenis kebutuhan korban bencana.

Pada masa tanggap darurat PRI akan berkontribusi memobilisasi tenaga medis dan non medis, logistik medis dan logistik pangan, kebutuhan darurat harian seperti bahan makanan, terpal, selimut, kompor, kebutuhan pribadi dll.

PRI sebelum mendistribusi logistik akan mendata ulang atau melakukan verifikasi atas data sebelumnya atau laporan2 masyarakat yg masuk dengan alasan situasi di lapangan sangat dinamis, perubahan bisa cepat terjadi.

Distribusi bantuan logistik akan didistribusikan berdasarkan skala prioritas dan berdasarkan kebutuhan dan bukan atas dasar keinginan pengungsi. Tim relawan akan terus menyisir dan mengolah informasi utk memastikan bahwa amanah donasi telah sampai pada yg berhak dan tepat sasaran.

Ada yg berbeda dgn pola kerja PRI yaitu bahwa kami tidak langsung menghabiskan semua logistik yang ada.

Pada pekan pertama kami sudah harus punya posko sekaligus menjadi gudang utk menampung seluruh titipan donasi dari donatur dan komunitas lain. Untuk itu kami PRI akan selalu mencari tempat yg agar luas dan aman dari kemungkinan gangguan orang tidak bertanggung jawab.

Mengapa kami tdk langsung mengabiskan donasi? apakah tidak berkesan menimbun bantuan ??. Kami sudah punya pengalaman bahwa umumnya bencana besar tidak akan bisa diselesaikan dan dilayani dengan cepat. Akan selalu ada sekumpulan korban yg butuh bantuan jangka panjang karena rumahnya rusak berat, hilang, hanyut serta sumber penghasilannya juga hilang.

Karena tidak mungkin kami bisa menangani semuanya maka pada pekan kedua biasanya kami akan fokus mendampingi sekelompok pengungsi, membangun shelter yg tertata, membentuk organisasi di kalangan pengungsi, mendampingi mereka dalam bentuk Program Pendampingan Pengungsi Terpadu atau PPT. Program umum pada PPT ini yaitu: layanan kesehatan, trauma healing, dapur umum, distribusi logistik ke tenda2 binaan, pembuatan toilet darurat dan MCK, Pendidikan Al Qur’an atau TPA, pengadaan air bersih dan air minum, pembangunan mushallah darurat, penyediaan listrik dll.

Untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang ini maka kami harus ATUR NAPAS. Ibarat pelari maka tipikal dari PRI ini adalah pelari maraton. Kami harus bisa mengatur irama langkah agar kami tidak kehabisan napas di tengah jalan. Logistik harus diatur agar cukup utk waktu tertentu, tenaga atau relawan dijadwal utk roling, membangun komunikasi dgn komunitas lain agar bisa secara bersama2 melayani shelter PPT.

Pada kasus gempa bumi sulbar ini maka kami memilih Dusun Tammerimbi Desa Kabiraan kecamatan Ulumanda Kabupaten Majene dengan pertimbangan Dusun ini punya spesifikasi masalah yg berbeda dgn daerah lain yaitu disamping sekitar 90% rumah warga rusak berat tidak layak huni, pemukiman mereka juga terancan tertimbun longsor tanah akibat gempa yg setiap saat bisa hanyut menimbun pemukiman jika hujan lebat.
Dusun inipun terisolasi karena ada longsoran tanah yg menutup jalan dari arah kecamatan dimana sampai 1 bulan pasca bencana tanah longsor itu masih menutup jalan.

Akhirnya saya harus mengatakan bahwa sampai status ini dibuat, warga Dusun Tammerimbi masih di pengungsian menunggu keputusan apakah mereka aman utk kembali memperbaiki rumahnya atau mereka akan dipindah atau direlokasi ke tempat yg aman. Pertanyaannya adalah sampai kapan mereka akan tinggal di tenda2?, bagaimana dgn logistiknya, kemana mereka akan direlokasi, bagaimana dgn dananya, pembebasan lahannya, fasilitas umumnya dan lain2.

Untuk sementara PRI akan berupaya mendampingi para pengungsi, memenuhi kebutuhan logistiknya sampai ada keputusan dari pemerintah apakah mereka akan direlokasi atau tidak.

Mohon terus support saudara2 kita Insya Allah kami akan hadir 2 bulan, 3 bulan, 1 tahun atau mungkin selamamya dengan membangun kampung berkah ke 3 yaitu Kampung Berkah Sulbar.

Mohon doanya semoga kami relawan dan pengungsi senantiasa dikuatkan, dilindungi oleh Allah, Aamiin.

Dr. Hisbullah Amin
Ketua Dewan Pembina PRI

Comments
Loading...