MAHASISWA NAKAL,  SANG DUTA COVID-19 YANG SESUNGGUHNYA

MAHASISWA NAKAL,
SANG DUTA COVID SESUNGGUHNYA

Ada yang nanya ke saya, “Pak dok itu relawan yg ikut pak dokter mengelola Rumah Sakit Darurat Covid-19 RSDC Makassar di RSU Sayang Bunda dan sekarang nambah lagi RSU Wisata UIT masih yg dari awal ji toh”.

“Iya, yang dari awal ketika baru mau buka tenda sdh didemo masyarakat”. Jawabku singkat.
“Deh lamanya mu itu di’, hari ini kan sudah tanggal 25 juni artinya mereka-mereka itu sudah 3 bulan jadi relawan. Kayaknya kita mulai buka pelayanan Screening dan layanan perawatan tanggal 25 maret. Kalau boleh tahu, siapa-siapa mereka pak dok. Paling tidak latar belakang komunitasnya?”.

Oke saya jawab saja di medsos biar sekalian yang lain juga tahu siapa-siapa mereka Relawan-relawan yg secara langsung memeriksa dan merawat pasien terduga kopit dan yang sudah terkonfirmasi positif C19 di RSDC.

Saya menyadari sejak awal ketika akan membuka posko pelayanan langsung terhadap pasien covid-19 ini bahwa bencana pandemi ini sangat berbeda dengan bencana lainnya seperti gempa, banjir, tsunami dll. Jika pd bencana-bencana biasa itu segala macam komunitas akan berlomba buka posko, sampai biasa terjadi rebutan milih lokasi posko. Nah utk pandemi korona ini tdk banyak yg mau buka pelayanan langsung karena resikonya. Resiko tertular Corona.

Nah saya teringat pertengahan maret saya buka status FB dgn judul IBU PERTIWI MEMANGGIL, maka diluar perkiraan saya ternyata banyak sekali komunitas yg memenuhi panggilan ibu pertiwi yg sedang bersusah hati nan lara, merintih dan berduka. Maka berdatanganlah para pegiat bencana seperti Wahdah Islamiah, Para Relawan Indonesia , Peduli Dakwah, Mahtan dll. Salah satu komunitas yg sebelumnya tdk terlalu saya perhitungkan yaitu unsur Mahasiswa. Sebagian anak Tim Bantuan Medis (TBM) TBM Calcaneus FK Unhas, TBM FK Unismuh dan TBM FK UMI dan sebagian lagi mahasiswa tanpa identitas yg bekerja atas nama diri sendiri yg berasal dari berbagai fakultas non kedokteran.
Mulanya saya tdk terlalu berharap akan ada mahasiswa yg bergabung karena saya menyadari bahwa kegiatan perkuliahan sengaja diliburkan demi menghindari mahasiwa tertular kopit. Bahkan mahasiswa pendidikan profesi dokter yg harus praktik di RS juga diliburkan. Pihak kampus pasti tdk mengijinkan kalau ada mahasiswa minta ijin utk terjun langsung utk melayani pasien kopit.

Bahwa banyak mahasiswa yg gabung jadi relawan covid-19 di RSDC Makassar itulah yg membuat saya heran dan menyebut mereka sebagai MAHASISWA NAKAL.

Apanya yg hebat mahasiswa nakal ini ???
Mereka konsisten, sdh tiga bulanan tinggal mondok di posko satu gedung dgn pasien terkonfirmasi positif covid-19. Hebatnya lagi ada diantara mereka yg positif yg akhirnya dirawat oleh teman2nya sesama mahasiswa relawan, yg negatif merawat temannya yg posituf sampai dibyatakan sembuh atau negatis swab. Lalu ?? Seakan tdk tidak ada kapoknya, setelah di karantina 14 hari dan dinyatakan sembuh boleh pulang ke rumah … ehhhh … malah tdk mau pulang … lanjut jadi relawan lagi …. jadinya mereka ini bolehlah kita sebut sebagai relawan eks penderita kopit atau bahkan mereka inilah SANG DUTA COVID-19 yg sesungguhnya.

Saat hasil swab relawan ternyata ada mahasiswa yg positif dan harus kami karantina, saya sempat nanya ke mereka: “Eh ditau ji mama mu itu kalau kau positif baru di karantina di Posko ??”
Spontan dia jawab:”Jang maki bilang-bilang dok, dimarahi ka nanti. Nakira ji itu mama ku, saya jadi relawan terus ja ka di sini”.
Yah betul …. saat mereka menjalani karantina di kamar-kamar mereka masih sempat2 kerja laporan, membuat konten-konten media utk RSDC.

Ada lagi pernyataan yg bikin saya terenyuh sambil senyum-senyum kecut: “Oiii anu tdk dicari-cari ji kau itu sama mama mu, ka hampir mako tiga bulan di sini tdk pulang-pulang???”
“Tidak ji itu dok. Orang tua ku jauh. Di Makassar sini saya tinggal di kos kosan ji. Lebih enak jadi relawan di sini dok dari pada bosan tdk ada yg dikerja di kos”
“Apanya yg enak ??”
“Banyak makanan di sini dok. Hitung-hitung biaya hidup lebih ngirit”.

Ada juga saya dengar mata kuliahnya tdk lulus gara-gara tdk sempat bikin tugas dari dosennya.

“Jadi ?? Sampai kapan kamu orang semua di sini?” Tanyaku ke mahasiswa relawan itu.
“Tdk tahu mi dok. Terserah mi kita. Sampai kita putuskan RSDC Makassar ini ditutup.”
“Enak ko itu bilang begitu. Kalau ada apa-apa dgn kamu saya yg dimarahi rektormu. Na tau ji itu WD3 mu ??”
“Tdk tau mi itu dok diam-dism maki saja. Kita tanggung sendiri-sendirimi saja resikonya. Ini kebaikan ji juga yg kita kerja toh. Jang maki takut. Ku demo ki nanti itu bos-bos, pejabat-pejabat kalau ada yg mau tegur-tegurki RSDC berjuang”.

Bahhh … dasar Mahasiswa … Mahasiswa nakal..

Mungkin para netzen belum tahu bahwa kordinator lapangan Korlap di bawah saya di RSDC adalah Mahasiswa. Bendahara RSDC juga Mahasiswa. Umumnya divisi-divisi juga dipegang oleh mereka. Bahkan boleh dibilang operasional harian dan yg bergerak ke mana-mana, urus-urus surat administrasi, belanja-belanja hampir semuanya diurus mereka.

Tiba-tiba saya teringat ketika masih jadi aktifis mahasiswa. Ketika mahasiswa turun ke jalan. Ketika mahasiswa ditangkap. Ketika Mahasiswa turun di medan bencana.. Ketika Mahasiswa mati tertembak..

Saat ini “kenakalan” itu muncul lagi dalam bentuknya yg lain. Jadi relawan covid yg langsung melayani pasien. Gerakan mereka dgn ciri-cirinya yg hampir sama : nekat, penuh idealisme, tanpa pamrih, tanpa pencitraan, non partisan, tanpa rasa takut dst dst.. 

Wahai anak-anakku para Mahasiswa …. teruslah berproses …. teruslah bergerak …. teruslah menebar kebaikan dan kemanfaatan …. teruslah konsisten dgn idealisne mu … engkaulah calon-calon peminpin masa depan …

Insya Allah saya dan senior-seniormu yg lain akan senantiasa mendampingimu.

Hidup Mahasiswa !!!!

Mari kita berdoa semoga adik-adik mahasiswa kita ini senantiasa sehat wal afiat dilindungi oleh Allah Ta’ala Aamiin

Dr. Hisbullah Amin, SpAn.KIC.KAKV
Relawan RSDC / Para Relawan Indonesia

Comments
Loading...